Saat ada seekor tawon yang membuat sarang dengan damai seorang diri di atas ruang rapat yang lu datengin tiap hari?
A. Tinggalkan dia dengan damai sentosa
B. Kill it with fire
C. Take your favorite NERF and shoot it rapidly
D. Sterilkan seluruh ruangan, lalu siram ruangan dengan minyak dan bakar
E. Ambil jam tangan, ulurkan tangan kiri ke atas dan berharap si tawon hinggap di jam tangan, pada saat itu lu bilang henshin lalu puter tawon dan bilang CHANGE WASP.
F. Do a cossack dance
Alas, here is a song for you, you poor little wasp.
Dalam perjuangannya seorang diri
Pada waktu lelah dan jatuh terdesak
Dengan sayap terlipat wajah menengadah
Dia selesaikan sarang-sarangnya
Sepi hati ini
Kumembangun sarang ini seorang diri
Sepi hati ini
Tapi kau tidak seorang diri
Seseorang di sana mencintaimu
Seseorang di sana memercayaimu
Seseorang di sana memerhatikanmu
Seseorang di sana~
Semua bermula dari Nescafe Gold gw yang jatuh dan tumpah sebagian.
I admit I WAS desperate–tu kopi susah dapetnya dan jauh. Untungnya ada teman yang nawarin kopi Singapur juga. It seems like the day was saved, kopi gw pecah tapi masih bisa minum kopi beda.
2 hari kemudian.
I got it. Looks a little weird. Here are the ingredients:
Glucose Syrup solids, Vegetable fat, Sodium Caseinate, Emulsifier, Stabilizer, Sodium Silico Aluminate.
Gw memutuskan untuk memercayai apapun yang mengandung Stabilizer, yeah.
So, karena tidak mendeteksi adanya bahaya, temen gw yang lain (really, not me) buka itu sachet dan tuang ke atas gelas, lalu kasih air.
Dia tunjukin ke gw.
“Kok kopinya putih sih?”
Kita lalu berkesimpulan dengan begitu cerdas bahwa kalo diaduk dia akan jadi hitam. Like, magically. Jadi diaduk. Tetep putih.
“Kok baunya tengik ya?”
Gw minum.
“Kok kaya air beras?”
It actually took a few more attempts and tries, until we realized it was a CREAMER.
2 orang sarjana + 1 calon sarjana, baru tau kalo serbuk putih yang kalo dicampur air berwarna putih dan diaduk tetap berwarna putih dan kalo dicium gak ada bau kopinya dan kalo diminum gak ada rasanya itu adalah Creamer setelah melalui percobaan dan pemikiran komprehensif.
Also this post made this blog felt a little bit more like a blog.
Berapa banyak buku yang anda baca minggu ini?
Kalau saya ditanya seperti itu, percaya atau tidak, saya tidak akan bisa menjawab dengan baik.
Dulu sampai SMP, kalau ditanya mengenai hobi, dengan lantang saya akan menjawab : membaca.
tapi sekarang kalau ditanya soal hobi, saya agak ragu apa membaca masih termasuk dalam rangkaian keseharian saya.
Ya membaca di sini maksud saya bukan asal baca tulisan. Tapi suatu ritual khusus yang membutuhkan slot waktu yang cukup untuk menyimak, meresapi, dan mentafakuri isi suatu buku. Kemudian menyimpannya dalam sudut memori bagai sebuah kenangan akan sebuah petualangan. Untuk selanjutnya dijadikan bekal imajinasi kita dalam menghadapi hidup. Percaya atau tidak, manusia butuh imajinasi juga untuk bertahan hidup.
Saya lebih suka bacaan yang bisa mengalirkan isi nya begitu saja. Tanpa membuat si pembaca menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya atau bagaimana akhir nya. Bukan berarti saya tidak suka bacaan suspense, misteri, atau pun thriller. Tapi terkadang dari bacaan-bacaan seperti itu saya merasa banyak dibodohi. Saya suka bacaan yang menggugah. Aksi Sherlock Holmes dari Arthur Conan Doyle, atau pun kengerian Count Dracula nya Bram Stoker.
Pernah baca Pagar Kawat Berduri nya Trisnojuwono? Bercerita tentang perjuangan Indonesia yang harus menyamar menjadi pelajar dan melewati daerah pendudukan Belanda. Jujur itu pertamakali nya saya membaca cerita perjuangan dari sudut pandang tentara-tentara kecil tak dikenal tapi begitu mengena. Tentu saja karena penulis nya sendiri bekas tentara dan pernah terjun langsung ke medan perang. Kegelian dan kengerian hidup di camp konsentrasi benar benar terasa. Bagaimana Trisno menceritakan latar belakang masing-masing penghuni camp. dari mulai Bapak tua yang dipenjara karena tidak mengizinkan anak gadis nya menikah dengan seorang Belanda, anak muda bodoh tapi pemberani yang tidak pernah dipukuli di Camp karena dengan lantang langsung mengaku bahwa dia adalah tentara perjuangan, seorang model tentara jihad yang selalu berteriak merdeka atau mati dan akhir nya ditembak mati juga. Sampai seorang sipir Belanda berbadan besar tapi bodoh yang dipanggil Boy. Saya sempat geli membaca bagian di mana Boy mengajak berkelahi salah seorang tawanan, dan kemudian kalah oleh seorang tentara muda yang pernah belajar jujitsu. Lucu nya si Boy malah jadi senang dengan anak muda ini dan mulai menganggap nya sebagai “teman”.
Bicara soal membaca yang menjadi bagian keseharian, berkaitan juga dengan satu hal yang namanya budaya.
Mulai dari budaya membaca, sampai membaca budaya. Saya senang membaca budaya. mengamati bagaimana keseharian sekumpulan orang-orang melalui sebuah bacaan. Menilik kesamaan dan perbedaan perilaku sekumpulan manusia berdasarkan hal yang mereka sebut budaya. Dan ini yang membuat saya berpendapat. Atas dasar imajinasi, tidak perlu ada suatu klaim mengenai budaya tertentu hanya milik masyarakat tertentu. Karena hal hal seperti itu mengalir begitu saja dari satu manusia ke manusia lain. Dari media cetak, suara, bahkan visual. dan dengan makin baur nya media elektronik. Setiap orang bisa menjadi orang lain tanpa waktu lama. Menyelami berbagai macam kebudayaan seolah menjadi bagian masyarakat asal budaya itu sendiri. Tanpa menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Karena tidak jarang apa yang diklaim sebagai budaya oleh suatu sekelompok manusia, merupakan rajutan dari berbagai budaya yang diklaim kelompok manusia lain. yang perlu dilakukan hanyalah mindset untuk tidak saling membedakan.
Saya sendiri bingung, ketika sekelompok orang mengklaim suatu budaya dan memagari budaya mereka dari dunia luar. Padahal jika mereka menyimak. Apa yang mereka klaim merupakan bentuk akumulasi dari remehan-remehan budaya luar. Coba hitung berapa banyak kata serapan asing dalam bahasa Indonesia. Coba selidiki apa istilah ‘maid’ dan ‘loli’ merupakan istilah asli Jepang?
Berapa banyak bacaan anda mempengaruhi cara anda berpikir?
Berapa banyak bacaan anda berasal dari luar negeri?
Berapa banyak bacaan anda berasal dari dalam?
Apa anda masih menganggap beda, bacaan dari luar dan bacaan dari dalam negeri?