Karya : Calcu-Late, Game Besutan Blazing Fanfish yang Perlahan Merambah Pasar Internasional

calcu-late web—————————-

Perkembangan sistem pendistribusian game yang dewasa ini perlahan berevolusi dari media fisik menuju media digital (digital download) tak dapat dipungkiri telah merintis dimensi baru bagi para indie game developer untuk turun ke pasar dan merangkul lebih banyak segmen konsumen secara global. Tak hanya game-game garapan luar negeri, beragam game indie karya anak bangsa pun – semisal Dreadout – telah merintis sukses dengan mengikuti formula demikian. Turut menjejak kini adalah Calcu-Late – game produksi Blazing Fanfish – yang kini telah resmi didistribusikan oleh entitas distributor game asal Inggris Back to Basics Gaming dan didaftarkan pada Steam Greenlight.

Blazing Fanfish sendiri merupakan suatu side project yang digagas oleh Black Mage (Fatra M.) – staff Genshiken ITB ’10 – yang perdana diprakarsai pada tahun 2013 dengan peluncuran game bergenre (semi)-horor Cursed Wish. Cukup berhasil dengan game tersebut, Blazing Fanfish pun kemudian bereksperimen dengan berbagai game lain yang mengangkat tema yang kurang lazim, semisal Calcu-Late yang mengangkat tema ujian dan matematika – sejalan dengan latar belakang sang kreator yang merupakan seorang mahasiswa jurusan matematika.

“(Pada) awalnya itu begini, waktu itu ada kontes game, terus saya dan tim ngumpul ngebahas mau bikin apa – langsunglah jadi (konsep dasar) Calcu-Late kala itu. Content-nya memang nggak langsung jadi semua, tapi arah pembuatan game-nya nggak berubah dari awal, cuma ada penambahan pengurangan dan pemolesan disana sini,” tutur Black Mage ketika ditanya seputar latar belakang pembuatan Calcu-Late.

Mengusung tagline “To Study Now When the Test is Tomorrow”, dalam lingkup semesta permainannya Calcu-Late berpusat pada kisah James – seorang pelajar yang akan berpartisipasi pada turnamen ‘olimpiade para dewa’ – di mana ia (di saat yang bersamaan) juga harus menghadapi ujian matematika di sekolahnya. Sayangnya, dengan waktu ujian yang semakin mendekat, ia lupa untuk mempelajari materi yang akan diujikan. Dalam permainannya, pemain akan dihadapkan dengan berbagai puzzle matematika (semisal magic square) pada tiap-tiap tahapnya yang terbagi ke dalam dua fasa – satu fasa merupakan fasa solo dan fasa lainnya merupakan fasa duel di mana pemain akan dihadapkan dengan player komputer (AI) yang akan menantang pemain dalam menyelesaikan puzzle terkait.

Perlu dicatat bahwa AI pada permainan ini memahami teori probabilitas dan berbagai prinsip matematika lainnya, sehingga tak jarang pemain dituntut untuk lebih kalkulatif dan kreatif dalam mencari solusi puzzle yang bersangkutan. Sebelum merambah ke konteks digital, Calcu-Late sejatinya telah terlebih dahulu dijual secara fisik (DVD) pada event semacam Comifuro (dengan ikut serta pada stand Great Conspiracy Theory yang merupakan subsidiari informal dari Genshiken ITB) dan Game Development Gathering Prime Telkom University.

Semoga (Calcu-Late) menginspirasi bertambah maraknya game puzzle berkedok RPG,” harap Black Mage menutup.

Bagi yang tertarik untuk menjajal langsung game ini atau mendukung game ini agar termasuk dalam katalog Steam, informasi lebih lanjut mengenai Calcu-Late dapat diakses dengan meng-klik link ini.

(artikel oleh Zakaria S. Laksmana / Nivalyx, G ’13)