Review: Novel – Blindsight

Ketika makhluk luar angkasa pertama kali muncul di Bumi, mereka tidak menyapa, tidak memberi pesan, tidak memulai pertemuan ini dengan slogan-slogan “WE COME IN PEACE”. Mereka datang berbondong-bodong, dalam bentuk bundaran-bundaran kecil berwarna hitam yang muncul di atmosfer planet kami, lalu terbakar dan menghilang setelah mengambil dan mentransmisikan semua data yang mereka bisa ambil.

Dua bulan kemudian, Bumi mendengar bisikan sinyal dari luar angkasa, jauh di luar orbit Neptunus. Dan untuk mencari tahu, memuaskan rasa penasaran, dan meredakan–atau mungkin mengkonfirmasi–rasa takut, Bumi mengirim satu kapal luar angkasa dengan kru yang tidak biasa:

Seorang ahli bahasa dengan otak yang terbagi untuk empat kepribadian, seorang ahli biologi dengan indra yang menempel ke mesin, seorang jenderal yang benci peperangan, dan seorang predator yang dulu disebut sebagai *vampir* untuk memimpin mereka.

Dan di antara mereka: seorang *sintesis*, seorang analisis topologi informasi yang sudut pandang tanpa pamrihnya membentuk narasi dalam novel ini.

*Blindsight* adalah novel fiksi ilmiah karya Peter Watts yang dirilis secara gratis (http://www.rifters.com/real/Blindsight.htm) tahun 2006 lalu. Kisah dasarnya merupakan kisah paling biasa dalam fiksi ilmiah: pertemuan pertama dengan makhluk asing. Tetapi *Blindsight* memberikan pertemuan yang tidak biasa, dan memaparkannya lewat karakter-karakter yang luar biasa.

Sebagai fiksi ilmiah tingkat tinggi, atau *hard science fiction*, novel ini mengakarkan fantasinya pada ilmu-ilmu yang nyata diketahui sekarang, baru lalu mengembangkannya secara logis untuk mengisi ruang-ruang kosong dari pengetahuan kita.

Cakupan ilmu dalam *Blindsight* begitu luas, dari biologi dan mekanika orbital sampai psikologi dan berbagai pandangan filosofi, dan semuanya ditelaah begitu dalam. Ia seringkali menari-nari dengan terminologi ilmiah dan eksposisi ipteknya. Dalam fiksi ilmiah yang lain, hal ini bisa membuat pusing pembaca, tapi novel ini berhasil membuatnya menari bersama dengan narasinya. Setidaknya, walaupun bingung, prosanya selalu indah dan bisa dinikmati.

Ajaibnya, novel ini bukan hanya gendut pengetahuan, tapi juga berisi penuh dengan *karakter*. Tokoh-tokohnya bukan tipe pahlawan atau orang baik-baik, tetapi mereka terdengar hidup dan nyata. Bukan hanya stereotipe atau pelarutan sifat-sifat; penceritaannya bisa membuatmu simpatis terhadap para sosiopat ini.

Dunia di *Blindsight* terlihat seperti versi super-modern dari dunia kita sekarang, dengan berbagai perkembangan transhumanisme dan teknologi pasca-kemiskinan. Semuanya dipikirkan dengan matang, ditampilkan dengan apik. Prosa dalam novel ini dengan mulus membentuk dunianya di pikiran pembaca tanpa paragraf-paragraf panjang tak perlu yang hanya berisi eksposisi.

Kesimpulan: *Blindsight* ini adalah novel fiksi ilmiah tingkat tinggi sempurna. Ia menyusun berbagai ilmu dalam berbagai bidang dan memberi gambaran masa depan yang masuk, menarik, dan meninggikan akal. Ia juga dengan senang hati menjatuhkan dirinya ke lubang yang membuat semua novel fiksi ilmiah sulit dibaca: sup terminologi, bundaran tebal informasi, dan sejuta ide yang diluncurkan dalam sekali suap.

Tetapi tokohnya hidup, prosanya berkarakter, dan semua itu mengubahnya dari sup sayur filosifi hambar menjadi suatu cerita dengan rasa yang khas dan bumbu-bumbu yang menarik.

(Review oleh: Aliya – G’15)

-Fa