• [Review] No Game No Life: Zero

    Movie poster

    Sebuah film animasi dari jepang yang tayang di bioskop Indonesia beberap waktu yang lalu, No Game No Life: Zero sempat memunculkan kontroversi karena ulah beberapa orang tidak bertanggung jawab. Tapi, daripada membicarakan itu, lebih baik kita bahas filmnya saja. No Game No Life: Zero merupakan prequel dari seri TV anime “No Game No Life” yang diadaptasi dari seri light novel dengan judul yang sama. Film berdurasi 100 menit ini ditayangkan di bioskop Indonesia mulai 25 Oktober 2017 di CGV.

    The Story 8/10

    Sebagai prequel, No Game No Life: Zero menyampaikan sebuah cerita dari 6000 tahun sebelum peristiwa-peristiwa di No Game No Life, yaitu dalam periode perang besar antara semua ras di Disboard. Periode yang sangat menarik untuk dibahas, karena menceritakan kondisi hidup manusia sebagai ras terlemah, fraksi-fraksi utama yang berperang, dan strategi-strategi perang mereka. Tentunya memberikan kontras dengan TV series-nya, di mana semua bentuk pembunuhan dan perampokan telah dilarang. Karakter utamanya juga cukup menarik, yang akan dibahas di seksi berikutnya. Kekurangannya, pacing cerita kadang terlalu cepat dan beberapa hal penting tidak dijelaskan secara eksplisit, mungkin dibiarkan kepada imajinasi penonton.

    The Characters 8/10

    Karakter utama dalam No Game No Life: Zero adalah Riku, pemimpin para manusia dan Shuvi, sebuah ex-machina yang terasingkan. Secara visual, mereka memiliki banyak kemiripan dengan Sora dan Shiro dari TV series-nya, tapi karakter mereka dimulai dengan sangat berbeda. Riku ditampilkan sebagai seorang yang mengutuk kelemahannya, sementara Shuvi benar-benar seperti robot yang tanpa hati. Menariknya, interaksi antara mereka berdua saling membentuk karakter mereka hingga di suatu titik, karakter mereka menjadi duet penuh percaya diri yang berani menantang dunia, agak seperti Sora dan Shiro. Hanya saja, perubahan ini mungkin terlalu drastis untuk ditampilkan dalam satu film, sehingga bisa terasa terlalu cepat.

    The Sound 10/10

    Soundtrack-nya membangkitkan emosi dari suatu adegan dengan sangat baik, juga memberikan atmosfir yang konsisten di sepanjang film. Lagu yang diputar di akhir film, “There is a Reason” juga terasa sangat cocok untuk mengakhiri film ini dan menggambarkan perasaan-perasaan penonton saat menonton film ini.

    The Art and Animation 10/10

    Memiliki art yang sangat khas No Game No Life, tapi dengan latar belakang perang memberikan pengalaman yang unik. Adegan-adegan pertarungan dianimasikan dengan sangat baik, dan adegan di bagian akhir film sangat meninggalkan impresi bagi penonton salah satunya juga karena art dan animasinya yang memukau.

    Overall : 9/10

    Yang pasti, penulis tidak menyesal menonton film ini di bioskop. Sayangnya, pada saat artikel ini ditulis film ini sudah tidak ditayangkan di bioskop.

     

    – DT

  • [Review] A Silent Voice

     

    A Silent Voice, atau Koe no katachi, yang jika diterjemahkan ke bahasa Inggris berjudul “The Shape of Voice“, merupakan sebuah animated movie hasil produksi Kyoto Animation yang ceritanya diangkat dari manga dengan judul yang sama. Film berdurasi 129 menit ini cukup panjang untuk sebuah karya animasi. Film ini mulai ditayangkan di Indonesia pada 3 Mei 2017 di CGV Blitz.

    The Story 9/10

    Agak sulit membicarakan bagian ini karena durasi film yang cukup lama. Tapi, sepanjang cerita tidak ada bagian yang tidak bermakna. Dari awal sampai akhir, perkembangan cerita tidak terlalu lambat atau ditunda-tunda dan bagian yang merupakan plot twist mendapatkan foreshadowing yang baik sehingga tidak terduga namun dapat dimengerti. Topik yang dibawakan cukup menarik karena jarang dibahas di cerita lain. Setelah itu semua, cerita diakhiri dengan cukup memuaskan.

    The Characters 8.5/10

    Karakter-karakter yang diperkenalkan dalam Koe no Katachi cukup beragam. Dari tokoh Ishida Shoya yang merupakan seorang bully yang berusaha menebus kesalahannya sampai tokoh Nishimiya Shoko yang tetap berusaha membaur meskipun memiliki keterbatasan fisik, setiap karakter ditampilkan memiliki motivasi dan pola pikirnya sendiri. Sayangnya, sebagai gantinya, beberapa karakter pendukung terasa kurang dibahas. Meski demikian, karakterisasi yang diberikan sudah cukup untuk membuat penonton merasakan emosi-emosi dalam suatu adegan.

    The Sound 8/10

    Salah satu tema utama dari film ini adalah kehidupan dari seorang gadis yang tuli. Sesuai dengan  tema itu, soundtrack yang digunakan tidak terlalu mencolok sehingga beberapa adegan terasa sunyi. Meskipun demikian, penggunaan soundtrack cukup sesuai dengan suasana sehingga mendukung adegan yang sedang ditayangkan.

    Art and Animation  10/10

    Sebagai film yang diproduksi oleh Kyoto Animation, kualitas animasinya memang tidak diragukan, dengan karakteristik background yang detail, warna yang cerah, dan desain karakter yang khas. Secara keseluruhan film ini enak dilihat.

    Overall: 8.9/10

    Sangat enjoyable, penulis tidak merasa dua jam berlalu saat menonton. Apakah anda tertarik?

     

    -DT

  • [Review] Nintendo Switch is Here!

    Ya, benar sekali! Nintendo Switch, console hybrid yang paling ditunggu para gamers ini baru saja dirilis di Indonesia sejak bulan Maret yang lalu. Oh, ya, untuk kamu yang belum tahu, Nintendo Switch adalah sebuah console produksi Nintendo yang kamu bisa mainkan kapan saja, di mana saja. Karena dengan desain hardwarenya, Nintendo Switch ini dapat menyesuaikan diri dalam berbagai kondisi pemainnya. Misalkan saat bersantai di ruang keluarga, kamu bisa mengintegrasikannya dengan TV dan memainkan gamenya bersama keluarga dengan puas dari layar TV. Bagaimana saat bepergian? Tenang, kamu juga dapat membawa dan tetap memainkan Nintendo Switch layaknya console portable seperti nintendo gameboy, atau PSP. Keren sekali, bukan?

    Nah, pada kali ini, salah satu sahabat kita, Yoga Aulia (G 14′) punya opini berdasarkan pengalamannya sebagai user Nintendo Switch. Yuk, kita simak!

    Admin:
    Yog, emangya apa aja poin plus dari Nintendo Switch?

    Yoga:
    1. Paling pertama, pastinya karena suka desainnya inovatifnya yang bisa dimainin di mana pun (tempat tidur, kelas, dan, ya.. wc sekalipun)

    2. Bisa dimainin dengan tangan terpisah dari layarnya, enak dan ga statis. Gue pernah main 8 jam straight dan gak pegel.

    3. Ada fitur autosleep, bro. Jadi, kalau baterainya habis, saving nya gak akan hilang dan akan lanjut di tempat terakhir begitu di-charge.

    4. Motion capturenya bagus untuk main 1 2 switch dan saat pakai panah di zelda.

    5. Console portable pertama dengan kualitas 720p, dan frameratenya juga jarang drop.

    6. Sangat support untuk main multiplayer. Saran, sih, beli bundle mario kart. Bisa main berdua tanpa add-on lagi.

    7. Ringan banget, bro.

    8. Game-game kedepannya cukup promising, sih.

    Admin:
    Keren uga. Tapi pastinya tetep punya kekurangan, dong?

    Yoga:
    Ya, kekurangan tetep ada, sih.

    1. Karena console baru, pastinya gamenya masih sedikit.

    2. Pas docking, kalau ga hati-hati bisa mudah tergores.

    3. Joy-con strapnya keras, kadang takut pas cabutnya.

    4. Stand-nya lemah. Kalau permukaannya sandarannya empuk, dia bakal jatuh.

    5. Kalau lagi docking, joycon sebelah kiri ga tahan lebih dari 1 meter

    6. TV modenya baru sampai 1080p, kalah sama PS4 dan Xbox One

    7. Masih mahal di Indo.

    Nah, begitulah opini kilas tentang Nintendo Switch dari Yoga.
    Kalau kamu juga tertarik untuk cobain console yang satu ini, maka pastinya poin no 7 di atas perlu kamu pertimbangkan juga. Karena di Indonesia, Nintendo Switch memang masih dijual dengan harga sekitar 6 juta-an. Bagaimana? Masih tertarik?

    -FA